Akulah sang pohon
Aku menatap daun yang baru saja jatuh dari rantingku
Ia terlihat tegar, walaupun kesedihannya tidak dapat tertutupi
Kudengar angin mengajaknya untuk pergi bersama
Tapi ia menolak
Ia ingin tetap di sini katanya
Membusuk, terserap tanah, dan menyuburkanku
Pohon yang membuangnya
Aku menangis mendengar kata-katanya
Bukan hanya karena pengorbanannya
Tapi karena keadaan yang membuat aku harus membiarkan dia berpikir aku telah membuangnya
Padahal tak pernah sekalipun aku ingin melepaskan daun itu dari rantingku
Bahkan jika Tuhan mengizinkan, akan kulepaskan daun-daun lain di rantingku untuk mempertahankan daun terbaikku itu
Tapi mana bisa aku menawar Tuhan?
Wahai daun yang kulepaskan
Aku biarkan kau berpikir aku membuangmu
Tapi aku menunggu-menunggu saat kau diserap tanah
Dan merambat masuk dari akar ke batangku
Akan kuhayati keberadaan dirimu di dalam tubuhku
Karena mungkin, inilah cara Tuhan mempersatukan kita
