Kisah yang terselip antara Daun dan Pohon
*
Namaku angin
Padang rumput ini adalah tempat tinggalku
Ya aku tahu, angin tidak seharusnya memiliki tempat tinggal
Teman-temanku yang lain sering berkelana dari satu tempat ke tempat lain
Karena itu yang dilakukan angin, kami bebas berhembus kemanapun kami suka
Aku juga begitu, dulu!
Tapi begitu aku sampai padang rumput ini, aku memutuskan tidak ikut mereka
Dan tinggal di sini!
Aku tentu saja punya banyak teman sesama angin
Sudah banyak angin yang singgah di padang rumput ini
Dan tiap akan pergi, mereka selalu mengajakku serta
Tapi aku akan tetap setia pada padang rumput tempat tinggalku ini
Maka mereka menyebutku angin yang aneh
Tahukah kalian apa yang membuatku begitu menyukai tempat ini?
Lihatlah pohon itu, tidakkah kau lihat selembar daunnya tampak berbeda
Daun itu lebih hijau dari yang lain
Dan tiap aku bermain di sekitar pohon itu, dialah yang bergerak paling ceria
Keceriaan yang menghipnotisku untuk menghentikan pengelanaanku
Dan diam di sini
Suatu hari yang cerah, seperti biasa aku bermain di sekitar pohon tempat daunku tinggal
Ia tak seceria biasanya, bahkan ia tampak sedih
Aku berputar di sekitar pohon, ingin tahu apa yang menimpanya
Tapi betapa terkejutnya aku ketika daun itu tiba-tiba terlepas dari ranting sang pohon
Aku terdiam memandangi sang daun yang kini tergeletak di tanah
Ia bebas sekarang, ia tidak lagi tergantung di ranting pohon
Ini kesempatanku untuk melanjutkan pengelanaan
Tanpa kehilangan alasan utamaku berhenti berkelana
Maka kuhampiri sang daun, mencoba mengajaknya ikut berkelana bersamaku
Tapi jawabannya membuat hatiku teriris
“Maaf angin, andai saja aku bisa. Aku terlalu mencintai pohon yang baru saja membuangku ini. Dan aku takkan menyerah mencintainya. Aku akan tetap di sini, di kakinya sampai membusuk dan diserap tanah, lalu menyuburkannya, pohon yang membuangku”
Maka aku memutar tubuhku, tak sanggup lebih lama menyaksikan daun terindahku terluka, apalagi sampai membusuk demi pohon yang membuangnya