Archive for ALL About LouPh

Akulah Pohon

Akulah sang pohon
Aku menatap daun yang baru saja jatuh dari rantingku

Ia terlihat tegar, walaupun kesedihannya tidak dapat tertutupi
Kudengar angin mengajaknya untuk pergi bersama

Tapi ia menolak

Ia ingin tetap di sini katanya

Membusuk, terserap tanah, dan menyuburkanku

Pohon yang membuangnya
Aku menangis mendengar kata-katanya

Bukan hanya karena pengorbanannya

Tapi karena keadaan yang membuat aku harus membiarkan dia berpikir aku telah membuangnya
Padahal tak pernah sekalipun aku ingin melepaskan daun itu dari rantingku

Bahkan jika Tuhan mengizinkan, akan kulepaskan daun-daun lain di rantingku untuk mempertahankan daun terbaikku itu


Tapi mana bisa aku menawar Tuhan?

Wahai daun yang kulepaskan

Aku biarkan kau berpikir aku membuangmu

Tapi aku menunggu-menunggu saat kau diserap tanah

Dan merambat masuk dari akar ke batangku

Akan kuhayati keberadaan dirimu di dalam tubuhku


Karena mungkin, inilah cara Tuhan mempersatukan kita

Akulah angin

Kisah yang terselip antara Daun dan Pohon

*

Namaku angin

Padang rumput ini adalah tempat tinggalku

Ya aku tahu, angin tidak seharusnya memiliki tempat tinggal

Teman-temanku yang lain sering berkelana dari satu tempat ke tempat lain

Karena itu yang dilakukan angin, kami bebas berhembus kemanapun kami suka

Aku juga begitu, dulu!

Tapi begitu aku sampai padang rumput ini, aku memutuskan tidak ikut mereka

Dan tinggal di sini!

Aku tentu saja punya banyak teman sesama angin

Sudah banyak angin yang singgah di padang rumput ini

Dan tiap akan pergi, mereka selalu mengajakku serta

Tapi aku akan tetap setia pada padang rumput tempat tinggalku ini

Maka mereka menyebutku angin yang aneh

Tahukah kalian apa yang membuatku begitu menyukai tempat ini?

Lihatlah pohon itu, tidakkah kau lihat selembar daunnya tampak berbeda

Daun itu lebih hijau dari yang lain

Dan tiap aku bermain di sekitar pohon itu, dialah yang bergerak paling ceria

Keceriaan yang menghipnotisku untuk menghentikan pengelanaanku

Dan diam di sini

Suatu hari yang cerah, seperti biasa aku bermain di sekitar pohon tempat daunku tinggal

Ia tak seceria biasanya, bahkan ia tampak sedih

Aku berputar di sekitar pohon, ingin tahu apa yang menimpanya

Tapi betapa terkejutnya aku ketika daun itu tiba-tiba terlepas dari ranting sang pohon

Aku terdiam memandangi sang daun yang kini tergeletak di tanah

Ia bebas sekarang, ia tidak lagi tergantung di ranting pohon

Ini kesempatanku untuk melanjutkan pengelanaan

Tanpa kehilangan alasan utamaku berhenti berkelana

Maka kuhampiri sang daun, mencoba mengajaknya ikut berkelana bersamaku

Tapi jawabannya membuat hatiku teriris

“Maaf angin, andai saja aku bisa. Aku terlalu mencintai pohon yang baru saja membuangku ini. Dan aku takkan menyerah mencintainya. Aku akan tetap di sini, di kakinya sampai membusuk dan diserap tanah, lalu menyuburkannya, pohon yang membuangku”

Maka aku memutar tubuhku, tak sanggup lebih lama menyaksikan daun terindahku terluka, apalagi sampai membusuk demi pohon yang membuangnya

akulah daun,..

Akulah daun, yang kau buang dari ranting mu dulu

Kutolak ajakan angin yang hendak menerbangkanku

Karena aku tak rela meninggalkanmu

Wahai pohon yang membuangku

Maka disinilah aku

Tergeletak di bawah kakimu

Kubiarkan diriku membusuk

Untuk kemudian diserap tanah

Lalu menyuburkanmu

Pohon yang membuangku

Maaf

mencoba memberikan senyuman terbaik. tapi sungguh berat hati ini, merelakan dia pergi jauh dariku. dan aku tahu konsekuensinya. kami takkan seperti dulu lagi, pertemanan ini takkan semurni dulu lagi karena kini status “mantan” menjadi dinding pemisah yang tebal dan tinggi bagi kami berdua.

andai waktu mengizinkan aku untuk kembali ke masa lalu, ah, tapi semua hanya mimpi. mimpi kosong yang terus membayangiku selama dua tahun terakhir.

malam ini, bagaikan air yang mengalir deras, kenangan manis saat bersamanya membajiri pikiranku bahkan sampai ke relung relung hatiku. teringat kata-kata indahnya dulu

“kita akan terus bersamakan? selama kamu menginkan hal itu”

aku ingin menangis, meneriakkan kata2 itu dihadapannya. aku ingin kita masih bersama tapi nyatanya kau lah yang mengingkari itu

teringat saat aku marah padamu, dan kamu cukup membisikkan “hanya kamu yang spesial bagiku” mampu meluluhlantakkan dinding es pada hatiku.

berat rasanya merelakanmu

sungguh, maafkan aku yang belum bisa merelakanmu sepenuh hati. aku takut menjadi bebanmu, hanya kata maaf yang bisa ku ucapkan.

“maafkan aku”

Jika

Jika mencintaimu adalah mengajarkanku menelusuri peta-peta kota Surabaya dengan baik tanpa pernah engkau dampingi, maka akan kukatakan pada diriku sendiri bahwa kau sedang mengajariku mandiri.

Jika mencintaimu adalah melaksanakan kata menunggu kala tengah malam bahkan sampai aku tertidur lalu bangun kembali dengan tetap mendekap buku di dadaku hanya untuk berkata syukurlah kau sudah pulang dengan selamat, maka kata menunggu tak lagi membosankan untukku tapi kini menjadi sebuah kenikmatan yang sulit aku lukiskan.

Jika mencintaimu adalah memperlajari seorang pria yang tidak suka minum kopi dan akhirnya terpaksa meminumnya dengan alasan ditraktir, maka aku belajar bagaimana menghargai pemberian yang tidak kita suka dari orang lain.

Jika mencintaimu adalah mengajarkanku bagaimana bersosialisasi dengan baik, maka perlahan kucari celah darimu lalu kupinta kau mengelurkanku dari alam maya yang penuh kamuflase ini.

Jika mencintaimu adalah mencari dan memperhatikan tiap detail apa yang kamu lakukan dari hari ke hari, maka diam-diam aku selalu berdoa untukmu agar setiap detail yang kamu lakukan akan menjadikanmu lebih baik dari hari kemarin. Berdoa agar kau selalu diberi perlindungan dari bahaya apapun karena hanya dengan doa aku mencintaimu.

Jika mencintaimu adalah tentang bagaimana mengendalikan kata cinta itu sendiri atas nama tahu diri, maka aku akan melakukannya asal tidak berjauhan denganmu, asal kau tidak pergi.

Jika mencintaimu adalah sebuah harapan dilema, maka aku akan mencari hikmah kenapa aku harus mencintaimu.

Jika mencintaimu adalah suatu pembenaran bahwa cinta ini bukan aku yang mau dan cinta ini bukan tercipta dari keinginan semata, maka aku akan menutup telingaku rapat-rapat atas perkataan orang-orang yang cenderung menyalahkanku mencintaimu. Kupikir tidak ada yang salah dan dosa dari cinta.

Jika mencintaimu adalah menikmati tiap detak jantung dan menghitung kecepatan debarannya ketika aku tanpa sengaja menyebut namamu, maka diam-diam aku sedang bejalar matematika kehidupan.

Jika mencintaimu adalah menjadikanku lebih dewasa, maka aku akan menempuhnya sebagai manusia yang lapang dada.

Jika mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain, maka Kau mengajarkan aku mencintai dengan cara yang lain-lain.

Jika mencintaimu adalah belajar melupakan, maka aku akan bilang padamu bahwa aku ini ada dan tak ingin dilupakan atau melupakan.

Jka mencintaimu adalah belajar, belajar, dan terus belajar, maka aku tidak tahu kapan pelajaran ini akan berakhir

Dan aku memilih mencintaimu dengan pasrah :)

« Previous entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.