i LOUPH my LIF3

life is sohurt and sometimes it almost made me feel so desperate,.



untungnya shaen punya keluarga yang selalu merasa bangga memiliki shaen. mereka adalah orang yang selalu memberikan motivasi yang cukup hebat untuk Q. When i feel the world is not my said, they always make me feel beter about my self, shaen selalu bisa merasa mempunyai hidup yang cukup baik, diri shaen cukup hebat (heheh,,..) dan kehidupan shaen cukup sempurna.

” Ingatlah setiap nikmat yang ALLAH anugerahkan kepadamu, karena Dia telah melipatkan nikmatNya dari ujung rambut hingga ke bawah telapak kaki “

{ jika kamu menghitung nikmat ALLAH, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya}        QS Ibrahim:34

kekayaan hati

Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati. (Bukhari – Muslim) .

Hadist diatas menyiratkan bahwa kekayaan bukan pada harta benda namun pada kekayaan hati. Betapa indah dan mulianya bila hati penuh kekayaan yang berwujud cinta kasih dan senyuman pada sesama sehingga tidak ada ruang untuk membenci dan menyakiti siapapun.

Siapa yang tidak ingin tampil menawan? Seburuk apapun kita berusaha untuk bisa tampil mempesona namun pesona tubuh dan wajah tidak pernah abadi. Seiring waktu fisik kita makin melemah dan wajah tampak tidak lagi menawan. Hanya kecantikan batin yang bisa abadi. Itulah hati yang terindah tampil penuh pesona.

Kekayaan hati bisa diperoleh siapapun. Tidak peduli apapun kedudukannya, wajahnya ganteng atau jelek. Bila seseorang memiliki hati yang indah dan mulia dari dalam bisa memancar keluar menebarkan cinta kasih dan senyuman pada sesama sehingga dimanapun kita berada, kita memberikan rasa damai kepada siapapun yang berada disisi kita. Itulah makna kekayaan hati.

^.^ shaen bgtz

Aku mungkin Bukan orang yang baik.
Aku juga mungkin termasuk orang munafik.
Mungkin muka dan tubuhku mencerminkan siapa sebenarnya aku.

Seseorang yang terkadang bisa sedih karena sesuatu masalah yang mungkin menurut orang lain hanyalah sepele.
Seseorang yang bisa merasa sakit, bila disakiti sedikit saja anggota badan serta perasaannya.
Seseorang yang dapat marah bila diganggu harga diri dan kesabarannya.

Mungkin…
Aku seseorang yang dapat terseyum bila sedang bahagia.
Aku seseorang yang dapat menangis bila sedang sedih.
Aku juga pintar menyembunyikan kesedihan dihadapan semua orang bila itu diperlukan.

Aku juga sering merasa iri dengan apa yang orang lain miliki.
Walupun terkadang aku merasa bangga akan semua yang aku miliki.

Aku sering tidak puas dengan kehidupan ini, dan menggap hidup ini tidak adil.
Aku dapat dengan cepat menyadari bahwa pikiran-pikiran ku salah tetang ketidak adilan dunia padaku.

Aku juga dapat sakit hati bila putus cinta dan dihiyanati.
Aku juga dapat merasa bahagia bila disayangi dan dicintai dengan tulus.

Aku juga dapat mencintai dan menyayangi.
Aku juga dapat setia dan sabar menanti.

Aku juga dapat menjadi orang lain bila aku terpaksa melakukannya.
Aku dapat menjadi orang jahat yang mampu meruntuhkan bumi bila perlu untuk mendapatkan keadilan dan mempertahankan harga diri.

AKu…
Aku………..
Aku, Siapa sebenarnya diriku
Mungkin Aku sendiri pun tak tau siapa sebenarnya aku.
Apa sebenarnya mauku.
Dan apa sebenarnya tujuan dan cita-cita hidupku.

Mungkin terlalu naif bila ada seseorang yang bilang dapat mengerti diriku.
Aku sendiri yang memiliki perasaan dan tubuh ini pun
sampai sekarang belum bisa mengerti siapa aku dan apa mau ku.

entahlah,..

perlahan aku mundur…
menjauh darimu sepertinya menjadi pilihan terbaik saat ini
karena rasa ini semakin abstrak
sulit sekali dilukiskan
sulit sekali diungkapkan melalui rangkaian kata…
kuputuskan membungkus rapi rasa ini
dan kubuang jauh
aku ini kalah, mengalah atau menyerah ??

entahlah …

kalah telak

“Seperti sungai Nil dan Mesir…..Mereka Berjodoh”

Dia mengutip salah satu kalimat dalam novel ayat ayat cinta untuk menutup chat kami sore itu, seketika aku terdiam. Menatap hampa layar monitorku, ingin menggapainya yang hanya berjarak 2 jam perjalanan darat dari tempatku. Menggapai seseorang yang aku tau, hanya melalui sebuah pembicaraan singkat itu, dia bisa mengerti bagaimana cara membuatku merasa nyaman didekatnya.

Yah…jodoh bukan hanya masalah pernikahan. Bukan hanya mengenai seseorang yang akan menemanimu hingga maut memisahkan kalian. Setiap pertemuan adalah jodoh. Dan ketika perpisahan terjadi, itu berarti jodohmu telah terhenti.

Entah apa yang menyebabkan kami begitu dekat. Perhatian, kasih yang tulus? Mungkin……Semua itu perlahan mengambil sebagian hari hariku. Yah…hanya sebagian saja. Karena seharusnya pun semua hari itu adalah miliknya…..Pria ku.

Siapa yang salah ketika hati yang seharusnya terisi penuh oleh cinta mendadak hampa dan terisi oleh cinta yang lain? Kenapa harus ada sekat yang membuat jarak antara aku dan priaku semakin jelas, dan diapun hadir. Menawarkan sekeping hati…..meskipun hanya sekeping aku merasa itu lebih dari cukup untuk mengisi kesendirianku. Bukan karena aku tak mencintai priaku. Bukan…..tapi karena yah, sekali lagi, priaku perlahan seakan menciptakan sekat tak kasat mata yang lalu menjadi nyata. Aku terbiasa. Terbiasa membiarkan hatiku kosong hingga tiba tiba kesepian menyergapku tanpa peduli. Dan dia hadir. Dia hanyalah cinta yang hadir di waktu yang tepat…..mungkin seperti itu.

Tapi cinta pun bukan hanya masalah hati. Bukan hanya berdasar pada perasaanmu yang mencintainya padahal engkau telah berkomitmen dengan pasanganmu. Haruskah selalu mengikuti perasaanmu dan menyakiti yang lainnya? Bukankah kebahagiaan bukan cuma milik kita dan orang orang yang kita sayangi? Bukankah Kebahagiaan juga milik orang orang yang menyayangi kita.

Lalu aku bertahan sekuat aku mampu. Mengatakan pada hatiku bahwa aku tidak sebenarnya sedang jatuh cinta. Bahwa aku hanya terbawa rasa. Rasa yang bisa menghinggapi siapa saja dan kebetulan dia hadir manis mengetuk pintu hatiku. Karna semua rasa seharusnya bisa dibatasi. Apalagi rasa yang seharusnya tak ada.

Tidak ada yang salah ketika cinta itu hadir. Ketika dia tiba tiba terhubung karena sebuah rasa yang perlahan mengikat pelan hatimu. Mengaduk aduk isi hatimu. Indah….memang begitu indah, tapi tak wajar. Dan aku coba menghindar.

Yah….sekuat cinta itu coba mengikat, sekuat itu pula aku coba mengelak. Terengah engah karena sekuat kuatnya aku berlari.

” Kita tidak bisa bersama”

“Kenapa?”

“Kau tau aku telah bersamanya”

“Tidakah kau rasa aku lebih baik darinya?”

“Aku mencintaimu…….tapi benarkah ini cinta? Nyatakah?”

Hingga saat ini entah sudah seberapa jauh aku berlari meninggalkannya di ujung jalan itu ketika kuputuskan melupakannya. Tapi tetap ada bagian yang sakit ketika kulihat dia lewat berjalan di hadapanku. Melihatnya tertawa. Bahkan mendengar suaranya pun membuat tetesan air seakan memaksa ingin keluar dari pelupuk mataku. Tapi aku masih mengindar. Ini mungkin saja cinta, tapi mungkin juga bukan.

Aku tak akan kembali setelah berjalan sejauh ini. Menyusuri jejak yang bahkan setiap langkahnya membuat aku terluka. Melupakannya ternyata menyakitkan. Meninggalkannya ternyata juga meninggalkan luka yang dalam. Tapi sekali lagi aku takan pernah kembali.

Aku hanya sedang merindukannya. Merindukan kebersamaan yang membuatku merasa bisa menjadi diriku sendiri.

Entah kenapa kau yang telah lama coba aku lepaskan bisa membuat aku semarah ini pada hari itu. Dan aku tak tahu harus marah kepada siapa. Kepada diriku sendiri mungkin lebih tepat.

Ah, kenapa begitu susah melepaskan bayangan pria satu ini? Seperti ingin berteriak di telingamu bahwa aku benar benar cemburu

Dan bila ini diibaratkan sebuah pertandingan…..maka aku kalah telak.

seberapa besar ?

Seberapa besar kapasitas saya di hati anda?
Jika memang anda sulit melupakan saya, selalu teringat saya dengan kenangan yang menyapa, kemudian anda menahan rasa ingin bertemu anda kepada saya, maka lakukanlah,, lakukan apapun yang bisa meruntuhkan dinding ego kita..


Namun jika mengingat saya pun tidak, bahkan ketika teringat hanya membuat hati anda sakit, dan tidak pernah ada kenangan yang menyapa, maka lupakanlah,, dan jangan lakukan apapun untuk membuat kita kembali menengok ke belakang..


Akankah kita terus membangun dinding masing-masing? Dinding ego yang dengan angkuhnya menjulang tinggi, yang sebenarnya masing-masing kita sangat ingin melobangi dan mencoba melihat apa yang saya dan anda lakukan di balik dinding itu? Menunggukah? Atau mulai acuh?


Lelah, pastinya lelah jika memang demikian,, saya pun sedang berpikir,, adakah cara yang tepat untuk mengakhiri ini semua? Mengakhiri dengan nyaman tentunya.. entah dengan terus membangun dinding ego kita, dan hidup dengan jalan masing-masing, ataukah meruntuhkan dinding ego itu dan mencoba mengerti satu sama lain?


Bisa jadi pilihan pertama salah,, tapi tak ada alasan untuk mengatakan pilihan kedua salah,, karena mungkin anda dan saya memliki perspektif berbeda..


Tahukah anda ketika anda menanyakan, “haruskah selalu saya yang mulai menyapa?” saat itu juga hati saya berkata, “dan haruskah saya selalu menunggu?”


karena saya tidak pernah tahu apa yang anda rasakan terhadap saya saat ini.. ya, saya tidak tahu seberapa besar kapasitas saya di hati anda..

« Older entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.