“Seperti sungai Nil dan Mesir…..Mereka Berjodoh”
Dia mengutip salah satu kalimat dalam novel ayat ayat cinta untuk menutup chat kami sore itu, seketika aku terdiam. Menatap hampa layar monitorku, ingin menggapainya yang hanya berjarak 2 jam perjalanan darat dari tempatku. Menggapai seseorang yang aku tau, hanya melalui sebuah pembicaraan singkat itu, dia bisa mengerti bagaimana cara membuatku merasa nyaman didekatnya.
Yah…jodoh bukan hanya masalah pernikahan. Bukan hanya mengenai seseorang yang akan menemanimu hingga maut memisahkan kalian. Setiap pertemuan adalah jodoh. Dan ketika perpisahan terjadi, itu berarti jodohmu telah terhenti.
Entah apa yang menyebabkan kami begitu dekat. Perhatian, kasih yang tulus? Mungkin……Semua itu perlahan mengambil sebagian hari hariku. Yah…hanya sebagian saja. Karena seharusnya pun semua hari itu adalah miliknya…..Pria ku.
Siapa yang salah ketika hati yang seharusnya terisi penuh oleh cinta mendadak hampa dan terisi oleh cinta yang lain? Kenapa harus ada sekat yang membuat jarak antara aku dan priaku semakin jelas, dan diapun hadir. Menawarkan sekeping hati…..meskipun hanya sekeping aku merasa itu lebih dari cukup untuk mengisi kesendirianku. Bukan karena aku tak mencintai priaku. Bukan…..tapi karena yah, sekali lagi, priaku perlahan seakan menciptakan sekat tak kasat mata yang lalu menjadi nyata. Aku terbiasa. Terbiasa membiarkan hatiku kosong hingga tiba tiba kesepian menyergapku tanpa peduli. Dan dia hadir. Dia hanyalah cinta yang hadir di waktu yang tepat…..mungkin seperti itu.
Tapi cinta pun bukan hanya masalah hati. Bukan hanya berdasar pada perasaanmu yang mencintainya padahal engkau telah berkomitmen dengan pasanganmu. Haruskah selalu mengikuti perasaanmu dan menyakiti yang lainnya? Bukankah kebahagiaan bukan cuma milik kita dan orang orang yang kita sayangi? Bukankah Kebahagiaan juga milik orang orang yang menyayangi kita.
Lalu aku bertahan sekuat aku mampu. Mengatakan pada hatiku bahwa aku tidak sebenarnya sedang jatuh cinta. Bahwa aku hanya terbawa rasa. Rasa yang bisa menghinggapi siapa saja dan kebetulan dia hadir manis mengetuk pintu hatiku. Karna semua rasa seharusnya bisa dibatasi. Apalagi rasa yang seharusnya tak ada.
Tidak ada yang salah ketika cinta itu hadir. Ketika dia tiba tiba terhubung karena sebuah rasa yang perlahan mengikat pelan hatimu. Mengaduk aduk isi hatimu. Indah….memang begitu indah, tapi tak wajar. Dan aku coba menghindar.
Yah….sekuat cinta itu coba mengikat, sekuat itu pula aku coba mengelak. Terengah engah karena sekuat kuatnya aku berlari.
” Kita tidak bisa bersama”
“Kenapa?”
“Kau tau aku telah bersamanya”
“Tidakah kau rasa aku lebih baik darinya?”
“Aku mencintaimu…….tapi benarkah ini cinta? Nyatakah?”
Hingga saat ini entah sudah seberapa jauh aku berlari meninggalkannya di ujung jalan itu ketika kuputuskan melupakannya. Tapi tetap ada bagian yang sakit ketika kulihat dia lewat berjalan di hadapanku. Melihatnya tertawa. Bahkan mendengar suaranya pun membuat tetesan air seakan memaksa ingin keluar dari pelupuk mataku. Tapi aku masih mengindar. Ini mungkin saja cinta, tapi mungkin juga bukan.
Aku tak akan kembali setelah berjalan sejauh ini. Menyusuri jejak yang bahkan setiap langkahnya membuat aku terluka. Melupakannya ternyata menyakitkan. Meninggalkannya ternyata juga meninggalkan luka yang dalam. Tapi sekali lagi aku takan pernah kembali.
Aku hanya sedang merindukannya. Merindukan kebersamaan yang membuatku merasa bisa menjadi diriku sendiri.
Entah kenapa kau yang telah lama coba aku lepaskan bisa membuat aku semarah ini pada hari itu. Dan aku tak tahu harus marah kepada siapa. Kepada diriku sendiri mungkin lebih tepat.
Ah, kenapa begitu susah melepaskan bayangan pria satu ini? Seperti ingin berteriak di telingamu bahwa aku benar benar cemburu
Dan bila ini diibaratkan sebuah pertandingan…..maka aku kalah telak.